Selasa, 12 Juni 2012

infeksi nifas dan patologi menyusui


INFEKSI NIFAS (INFEKSI PUERPERALIS)
Adalah infeksi luka jalan lahir pascapersalinan, biasanya dari endometrium bekas insersi plasenta.
Demam dalam nifas sebagian besar disebabkan oleh infeksi nifas maka demam dalam nifas merupakan gejala penting dari penyakit ini.
Demam dalam nifas seringjuga disebut morbiditas nifas dan merupakan indeks kejadian infeksi nifas.Disebabkan oleh pielitis, infeksi jalan pernafasan, malaria, dan tifus. Morbiditas nifas ditandai dengan suhu 38ºC atau lebih, yang terjadi selama 2 hari berturut-turut. Kenaikan suhu ini terjadi sesudah24 jam pascapersalinan dalam 10 hari pertama masa nifas.
Kejadian infeksi nifas  berkurang antara lain karena adanya antibiotik, berkurangnya operasi yang merupakan trauma yang berat, pambatasan lamanyapersalinan, asepsis, tranfusi darah, dan bertambah baiknya kesehatan umum (kebersihan, gizi, dan lain-lain).
Cara Infeksi
Kemungkinan besar penolong persalinan membawa kuman ke dalam rahim penderita, yakni dengan membawa mikroorganisme yang ada dalam vagina ke atas, misalnya dengan pemeriksaan dalam. Mungkin juga tangan penolongatau alat-alatnya masuk membawa kuman dari luar dan dengan infeksi tetes.
Kadang sumber infeksi berasal dari penolong sendiri misalnya, jika ada luka pada tangannya yang kotor atau dari pasien lain seperti pasien dengan infeksi puerperalis, luka operasi yang meradang, karsinoma uteri, atau dari bayi dengan infeksi tali pusat.
Faktor Predisposisi
Faktor terpenting yang memudahkan terjadinya infeksi nifas ialah perdarahan dan trauma persalinan. Perdarahan menurunkan daya tahan tubuh ibu, sedangkan trauma memberikan porte d’entree dan jaringan nekrotis merupajkan media yang subur bagi mikroorganisme.
Demikian juga partus lama, retensio plasenta sebagian atau seluruhnya memudahkan terjadinya infeksi. Keadaan umum ibu merupakan faktor yang ikut menentukan, seperti anemi dan mal nutrisi karena melemahkan daya tahan tubuh ibu.
Patologi
Setelah persalinan, tempat bekas perlekatan plasenta pada dinding rahim merupakan luka yang cukup besar untuk masuknya mikroorganisme. Patologi infeksi puerperali sama denagn infeksi luka. Infeksi itu dapat:
1.      Terbatas pada lukanya (infeksi luka perineum, vagina, serviks, atau endometrium)
2.      Infeksi itu menjalar dari luka kejaringan sekitarnya (tromoflebitis, parametritis, salpingitis, dan peritonitis)

Prognosis
Terutama tergantung pada virulensi kuman dan daya tahan tubuh penderita.
INFEKSI LUKA PERINEUM
Luka menjadi nyeri, merah, dan bengkak akhirnya luka membuka dan mengeluarkan getah bernanah.
1.      Infeksi luka serviks-jika lukanya dalam sampai ke parametrium, dapat menimbulkan parametritis.
2.      Endometritis-infeksi puerperalis paling sring menjelma senagai endometritis. Setelah mas inkubasi, kuman-kuman menyerbu ke dalam luka endometrium, biasanya paa bekas perlekatan plasenta.
Leukosit –leukosit segera membuat pagar pertahanan dan keluarlah serum yang mengandung zat anti, sedangkan otot-otot berkontraksi denagn kuat, rupanya dengan maksud menutup aliran darh dan limfe. Ada kalanya endometritis mengalami involusi.
TROMBOFLEBITIS
Perjalan infeksi melalui ena sering terjadi dan merupakan penyebab terpenting dari kematian karena infeksi puerpralis.
1.      Vena-vena golongan (1) Tromboflebitis pelvika
Yang paling sering meradang adalah vena ovarika karena mengalirkan darah dan luka bekas plasnta di daeah fundus uteri. Trombosis yang terjadi setelah peradangan bermaksud untuk menghalangi perjalanan mikroorganisme. Dengan proses ini, infeksi dapat sembuh, tetapi jika daya tahan tubuh kurang, trombus dapat menjadi nanah.
Bagian-bagian kecil trobus terlepas dan terjadilah emboli atau sepsis dan karena embolus ini mangandung nanah disebut juga pyaemia. Embolus ini biasanya tersangkut pada paru, ginjal, atau katup jantung. Pada paru dapat menimbulkan infark. Jika daeah yang mengalami infark luas, pasien meninggal mendadak dan jika tidak meninggal,dapat timbul abses paru. Biasanya terjadi dalam minggu ke 2.
Gejala :
a.       Demam menggigil; biasanya sebelumnya pasien sudah memperlihatkan suhu yang tidak tenang seperti pada endometritis. Kalau membuat kultur darah sebaiknya diambil waktu pasien menggigil atau sesaat sebelumnya.
b.      Penyulit ialah absce paru, pleuritis, pneumonia dan absces ginjal.
c.       Penyakit berlangsung antara 1-3 bulan dan angka kematian tinggi. Kematian biasanya karena penyakit paru-paru.
2.      Vena-vena golongan (2) Tromboflebitis femoralis
Peradangan vena femoralis sendiri. Ini mungkin terjadi karenah aliran darah lambat di daerah lipat paha karena vena tersebut, yang tertekanoleh lig.inguinale, juga karena dalam masa nifas kadar fibrinogen meninggi. Pada tromboflebitis femoralis terjadi edema tungkai yang mulai pada jari kaki, naik ke kaki betis, dan paha, bila tromboflebitis itu mulai pada vena sefena atau vena femoralis. Sebaliknya, bila terjadi sebagai lanjutan daritromboflebitis pelvika, edem mulai terjadi dari paha turun ke betis. Biasanya hanya 1 kaki yang bengkak, tetapi kadang-kadang keduanya, jarang menimbulkan emboli. Penyakit ini juga di kenal dengan nama phlegmasia alba dolen ( radang yang putih dan nyeri).
Gejala :
Terjadi antara hari ke 10-20 ditandai dengan kenaikan suhu dan nyeri pada tungkai biasanya yang kiri. Tungkai itu biasanya tertekuk dan terputar keluar dan agak sukar digerakkan. Kaki yang sakit biasnya lebih panas dai kaki yang sehat. Palpasi menunjukkan adanya nyeri sepanjang salah satu vena kaki yang teraba sebagai utas yang keras biasnya pada paha. Timbul oedem yang jelas biasanya mulai pada ujung kaki atau pada paha dan kemudian naik ke atas. Oedem ini lambat sekali hilang. Keadaan umum pasien tetap baik. Kadang-kadang terjadi trombophlebitis pada kedua tungkai.
3.      Sepsis puerperalis
Terjadi jikalau setelah persalinan ada sarang sepsis dalam badan yang secara terus-menerus atau periodik melepaskan mikroorganisme patogen ke dalam peredaran darah.
Perbedaan sepsis ada 3 :
a.       Porte d’entree-biasanya bekas insersi plasenta
b.      Sarang sepsis primer-tromboflebitis pada vena uterina atau vena ovarika
c.       Sarang sepsis sekunder (metastasis)-misalnya diparu sebagai abses paru atau pada katup jantug sebagi endokarditis serosa septika. Di samping itu, dapat terjadi abses di ginjal, hati, limpa, dan otak.
Gejala :
·        Suhu tinggi (40º C atau lebih) biasanya remitiens
·        Menggigil
·        Keadaan umum buruk : pols kecil dan tinggi, nafas cepat, gelisah.
·        Hb menurun karena haemolyse, leucocytese.
4.      Peritonitis
Infeksi puerperalis melalui saluran getah bening dapat menjalar ke peritonium hingga terjadi peritonitis atau ke parametrium menyebabkan parametritis. Jika peritonotis ini terbatas pada rongga panggul disebut pelveo peritonitis, sedangkan jika seluruh peritoneum meradang kita menghadapi peritonitis umum. Prognosis peritonitis umum jauh lebih buruk dari pelvio peritonitis.
Gejala :
·        Nyeri seluruh perut spontan maupun pada palpasi.
·        Demam menggigil
·        Pols tinggi, kecil
·        Perut gembung tapi kadang-kadang ada diarrhoea.
·        Muntah
·        Pasien gelisah, mat cekung.
·        Sebelum mati ada delirium dan coma.
5.      Parametitis (“cellulitis pelvica”)
a.       melalui robekan serviks yang dalam.
b.      penjalaran endometritis atau luka serviks yang terinfeksi melalui saluran getah bening.
c.       sebagai lanjutan tromboflebitis pelvika.
Jika terjadi infeksi parametrium, timbullah pembengkakan yang mula-mula lunak, tetapi kemudian menjadi keras sekali.
Infiltrat ini dapat terjadi hanya pada dasar lig. latum, tetapi jugad apat bersifat luas, misalnya dapa menempati seluruh parametrium sampai ke dinding panggul dan dinding perut depan di atas lig. inguinale. Jika infiltrat menjalar ke belakang dapat menimbulkan pembengkakan di belakang serviks.
Parametritis biasanya unilateral dan karena biasnya sebagai akibat luka serviks, lebih sering terdapat pada primipara daripada multipara.
Gejala :
Jika suhu postpartum tetap tinggi, lebih dari 1 minggu, maka parametritis harus dicurigai. Ada nyeri sebelah atau kedua belah diperut bagian bawah, sering memancar pada kaki. Setelah beberapa waktu pada toucher dapat teraba infiltrat dalam parametrium yang kadang-kadang mencapai dinding panggul. Infiltrat ini dapat diresopsi kembali tapi lambat sekali dan menjadi keras: sama sekali tidak dapat digerakkan. Kadang-kadang infiltrat ini menjadi absces.


6.      Salfingitis (salfingo-ooforitis)
Salfingitis adalah peradangan dari adneksa.terdiri atas salfingitis akut dan kronik.diaknosis dan gejala klinis hampir sama dengan parametritis.bila infeksi berlanjut dapat terjadi piosalfing.
a.       Masa Kehamilan
Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia,malnutrisi dan kelemahan,serta mengobati penyakit-penyakit yang diderita ibu.pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu.Begitu pula koitus pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan hati-hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban,kalau ini terjadi infeksi akan mudah masuk dalam jalan lahir.
b.      Masa Persalinan
·        hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan sterilisasi yang baik, apabila ketuban telah pecah.
·        Hindari partus terlalu lama dan dan ketuban pecah lama.
·        Jagalah sterilitas kamar bersalin dan pakailah masker,alat-alat harus suci hama.
·        Perlukan-perlukan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun peradominam dibersihkan, dijahit sebaik-baiknya dan menjaga sterilitas.
·        Pakaian dan barang-barang atau alat-alat yang berhubungan dengan penderita harus terjaga kesuci-hamaanya.
·        Perdarahan yang banyak harus dicegah, Bila terjadi darah yang hilang harus segera diganti dengan transfuse darah.
c.       MasaNifas
·        Luka-luka dirawat dengan baik jangan sampai kena infeksi, begitu pula alat-alat dan pakaian serta kain yang berhubungan dengan alat kandungan harus steril.
·        Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam ruangan khusus, tidak bercampur dengan ibu sehat.
·        Tamu yang berkunjung harus dibatasi.
Gejala :
Sering disebabkan Go. Biasanya terjadi pada minggu ke 2. Pasien demam menggigil dan nyeri pada perut bagian bawah kiri dan kanan. Salpingitis dapat sembuh dalam 2 minggu tapi dapa mengakibatkan sterilitas.
Secara ikhtisar cara penjalaran infeksi alat kandungan adalah sebagai berikut:
        I.            Penjalaran pada permukaan
-         Endometritis
-         Salpingitis
-         Pelveoperitonitis
-         Peritonitis umum
     II.            Penjalaran ke lapisan yang lebih dalam
-         Endometritis
-         Myometritis
-         Perimetritis
-         Peritonitis
   III.            Penjalaran melalui pembuluh getah bening
-         Lymphangitis
-         Perilymphangitis
-         Parametritis
-         Perimetritis
  IV.            Penjalaran melalui pembuluh darah  balik
-         Phlebitis → sepsis
-         Pheriphlebitis
-         Parametritis

Prognosa
Yang paling dapat dipercayai untuk membuat prognosa ialah nadi; jika nadi tetap dibawah 100 maka prognosa baik, sebaliknya kalau nadi diatas 130, apalagi kalau tidak ikut turun dengan turunnya suhu pronasanya kurang baik. Demam yang kontinu lebih buruk prognasanya dari demam yang remittens. Demam menggigil berulang-ulang, insomnia dan iclerus merupakan tana-tanda yang kurang baik. Kadar Hb yang rendah dan jumlah leucocit yang rendah atau sangat tinggi memburukkan prognosa. Juga kuman penyebab yang ditentukan dengan pembiakan mennetukan prognosa. Diagnosa peritonitis, trombophlebitis pelvica mengandung prognosa yang kurang baik.


Profilaksis
1.      Dalam kehamilan
Anemi dalm kehamilan perlu segera diobati karena anemi memudahkan terjadinya infeksi. Biasanya pengobatan anemi kehamilan ialah dengan pemberian zat besi (Fe). Keadaan gizi penderita juga sanagt menentukan ; diet harus memenuhi kebutuhan kehamilan dan nifas, harus seimbang dan mengandung cukup vitamin. Persetubuhan hendaknya ditinggalkan dalam 1-2 bulan terakhir kehamilan.
2.      Selama pesalinan
Dalam persalinan, ada 4 usaha penting harus dilaksanakan, yaitu:
a.       Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalan lahir
b.      Membatasi perlukaan
c.       Membatasi perdarahn
d.      Membatasi lamanya persalinan
Toucher hanya dilakukan kalau ada indikasi. Pembatasan perdarahan sangat penting dan ini terutama berlaku untuk kala III. Jika juga terjadi perdarahan yang banyak, darah yang hilang segera diganti.

Untuk wanita indonesia yang pada umumnya berbadan kecil, tiap perdarahan yang melebihi 500 cc sedapat-dapatnya diberi tranfusi, darah yang diberikan tidak kurang dari setengah darah yang hilang.
3.      Dalam nifas
Jalan lahir setelah persalinan mudah dimasuki kuman-kuman mengingat adanya perlukaan, tetapi jalan lahir terlindung terhadap kemasukan kuman-kuman karena vulva tertutup.
Irigasi tidak dibenarkan dalam 2 minggu pertama nifas. Semua pasien dengan infeksi hendaknya diasingkan supaya infeksi ini tidak menular kepada pasien lain.
Pengobatan
Dalam memilih 1 antibiotik untuk mengobati infeksi, terutama infeksi yang berat seperti pada sepsis puerperalis, kita tentu menyandarkan diri atas hasil uji sensitivitas dari kuman penyebab.
Akan tetapi sambil nunggu hasil uji tersebutsebaiknya kita segera memberi dulu salah satu antibiotik dengan spektrum luas supaya tidak membuangwaktu dalam keadaan yang begitu gawat.
Pada saan ini penisislin G atau penisilin semisintetis (ampisilin) merupakan pilihan yang paling tepat (“renaissance dari penicilline”) karena penisilin bersifat bakterisit (bukan bakteriostatik, seperti tetrasiklin arau kloram fenikol) dan bersifat nontoksis.
Penisilin ini diberikansebagai injeksi intravena atau secara infus pendek selama 5-10 menit. Penisilin dilarutkan dalan larutan glukosa 5 % atau ringer laktat. Dapat juga diberikan ampisilin 3-4gr, mula-mula intravena atau intramuskuler. Stafilokokus yang penicilline resistent tahan terhadap penisilin karena mengeluarkan enzim penisilinase. Preparat penisilin yang tahan penisilinase ialah oksasilan, dikloksasilin, dan metisilin.
Disamping pemberian antibiotik dalam pengobatan infeksi puerperalis, masih diperlukan beberapa tidakan khusus untuk mempercepat penyembuhan infeksi tersebut, antara lain :
1.      Luka perineum, vulva, vagina
Jika terjadi infeksi dari luka luar biasanya jahitan diangkat supanya ada drainage getah-getah luka. Juga diberi kompres pada luka.
2.      Endometritis
Pasien sedapatnya diisolasi, tetapi bayi boleh terus menyusus pada ibunya. Untuk kelancaran pengaliran lokia, pasien boleh diletakkan dalam letak fowler dan diberi juga utero tonik. Pasien disuruh minum banyak.
3.      Tromboflebitis pelvika
Tujuan terapi pada tromboflebitis ialah mencegah emboli paru dan mengurangi akibat-akibat tromboflebitis (edema kaki yang lama dan perasaan nyeri di tungkai).
Pengobatan dengan antikoagulansi (heparin dan dikumarol) bermaksud untuk mengurangi terjadinya trombus dan mengurangi bahaya emboli.
4.      Tromboflebitis femoralis
Kaki ditinggikan dan pasien harus tinggal di tempat tidur sampai seminggu sesudah demam sembuh. Setelah pasien sembuh, ia dianjurkan supanya jangan lama-lama berdiri dan dianjurkan memakai kaos elastis.
5.      Peritonitis
Antibiotik diberikan dengan dosis yang tinggi untuk menghilangkan gembung perut diberi “abbot  miller tube”. Cairan diberi perinfus bila perlu diberikasn tranfusi darah dan O2. Pasien biasnya diberi sedatif untuk menghilangkan rasa nyeri. Minuman dan makanan per os baru diberikan setelah ada flatus.
6.      Parametritis
Pasien diberi antibiotik dan jika ada fluktuasi perlu dilakukan insisi. Tenpat insisi ialah diatas lipat paha atau pada cavum douglas.
PERDARAHAN DALAM NIFAS
Penyebab perdarahan dalam nifas:
1.      Sisa plasenta dan polip plasenta
Sisa plasenta dalam nifas menyebabkan perdarahn dan infeksi. Perdarahn yang banyak dalam nifs hampir selalu disebabkan oleh sisa plasenta.
Terapi
Dengan perlindung antibiotik sisa plasenta dikeluarkan secara digital atau dengan kure besar. Jika ad demam ditunggu dulu smapai suhu turun dengan pemberian antibiotik dan 3-4 hari kemudian rahim dibersihkan, tetapi jika perdarahan banyak, rahim segera dibersihkan walau ada demam.
2.      Endometritis puerperalis
3.      Perdarahan fungsional
Dalam golongan ini termasuk:
a.       Perdarahan karena hiperplasia glandularis yang dapat terjadi akibat siklus yang anovulatoir dalam nifas
b.      Perubahan dins\ding pembukuh darah, ditemukan sisa plasenta, endometritis, atau pun luka.
4.      Perdarahan luka
Kadang-kadang robekan luka serviks rahim tidak didiagnosis sewaktu persalinan karena perdarahn pada waktu itu tidak menonjol; beberapa hari pascapersalinandapat terjadi perdarah yang banyak.
INFEKSI SALURAN KEMIH
Kejadian infeksi saluran kemih pada nifas relatif tinggi dan hal ini di hubungkan dengan hipotoni kandung kemih akibat trauma kandung kemih (dysuri) waktu peralinan, pemeriksaan dalam yang sering, kontaminasi kuman dari perinium, atau kateterisasi yang sering.
Sistisis biasanya memberikan gejala berupa nyeri berkemih (dysuri), sering berkemih, dan tak dapat ditahan. Demam biasanya jarang terjadi. Adanya retensi urine pascapersalinan umumnya merupakan adanya tanda infeksi. Pielonefritis memberikan gejala yang lebih berat, demam, menggigil, perasaan mual dan muntal. Selain disuri, dapat juga terjadi piuri dan hematuri.
PATOLOGI MENYUSUI
Masalah menysui pada umumnya terjadi dalam 2 minggu pertama masa nifas. Pada masa ini, pengawasan dan perhatian petugas kesehatan sangat diperlukan agar masalah menyusui dapat segera ditanggulangi sehingga tidak menjadi penyulit atau menyebabkan kegagalan menyususi.
Masalah menyusui yang sering terjadi sabagai berikut:
1.      PAYUDARA BENGKAK (ENGORGEMENT)
Payudara terasa lebih penuh,tegang dan nyeri.Terjadi pada hariketiga atau keempat pascapersalinan.Disebabkan oleh bendungan vena dan pembuluh getah bening.Hal ini semua merupakan tanda bahwa ASI mulai banya disekresi,namyn pengeluaran belum lancar.
Bila karena nyeri ibu tidak mau menyusui,keadaan ini akan berlanjut.ASI yang disekresi akan menumpuk sehingga payudara bertambah tegang,gelanggang susu menonjol,dan puting menjadi lebih datar.Bayi menjadi sulit menyusu.
Pada saat ini,payudara tampak lebih merah mengkilat,ibu demam,dan payudara terasa nyeri sekali.
Pencegahan
1.      Menyusui dini,susui bayi sesegera mungkin(sebelum 30 menit)setelah dilahirkan.
2.      Susui bayi tanpa dijadwal (on demand).
3.      keluarkan ASI dengan tangan atau pompa,bila produksi melebihi kebutuhan bayi.
4.      Perawatan payudara pascapersalinan
Pengobatan
1.      Kompres hangat agar payudara menjadi lebih lembek.
2.      Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui sehingga puting lebih mudah ditangkap dan diisap oleh bayi.
3.      Sesudah bayi kenyang,keluarkan sisa ASI.
4.      Untuk mengurangi rasa sakit pada paydara,berikan kompres dingin.
5.      Untuk mengurangi stasis divena dan pembuluh getah bening,lakukan pengurutan (masase) payudara yang dimulai dari puting kearah korpus.

2.      KELAINAN PUTING
Seyogianya,kelainan puting ditemukan lebih dini yakni pada saat pemeriksaan kehamilan agar segera dapat dikoreksi sebelum menyusui.
Kelainan puting yang dapat mengganggu proses menyusui adalah:
a.       Puting susu datar
b.      Puting susu tenggelam (inverted)
Penanggulangan
Puting datar dan tenggelam dapat diperbaiki dengan perasat Hoffman, yaitu dengan meletakkan kedua jari telunjuk atau ibu jari didaerah gelanggung susu, kemudian dilakukan urutan menuju kearah berlawanan.
Pada true inverted nipple perasat Hoffman tidak dapat memperbaiki keadaan,harus dilakukan tindakan operatif. Pada keadaan ini ASI harus dikeluarkan secara manual atau dengan pompa susu dan diberikan pada bayi dengan sendok, gelas, atau pipet.

3.      PUTING NYERI (SORE NIPPLE) DAN PUTING LECET (CRACKED NIPPLE)
Terjadi karena posisi bayi saat menyusui salah, yakni karena puting tidak masuk ke dalam mulut bayi sampai gelnaggang susu sehingga bayi hanya menghisap pada puting susu saja. Tekanan terus menerus hanya pada tempat tertentu akan menimbulkan puting nyeri waktu diisap, meskipun kulitnya masih utuh.
Penyebab lain yang dapat menimbulkan puting nyeri adalah penggunaan sabun, cairan , krim, alkohol, dan lain-lain untuk membersihkan puting susu sehingga terjadi iritasi. Iritasi pada puting juga dapat terjadi pada bayi dengan  tali lidah (frenulum linguae) yang pendek sehingga bayi tidak dapat menhisap sampai gelanggang susu dan lidahnya menggeser keputing.
Penaggulangan
Berikan teknik menyusui yang benar, khususnya letak puting dalam mulut bayi, yaitu:
a.       Bibir bayi menutup areola sehingga tidak tampak.
b.      Puting diatas lidah bayi.
c.       Areola diantara gusi atas dan bawah.
Puting nyeri bila terus disusukan lama-lama dan akan menjadi luka atau lecet.
Pencegahan
a.       Tidak membersihkan puting susu dengan sabun, alkohol, cairan, krim atau obat-obatan iritan lainnya.
b.      Untuk melepaskan isapan bayi setelah menyusui, tekanlah dagu bayi atau pijat hidungnya atau masukkan jari kelingking ibu yang bersih ke dalam mulut bayi.
c.       Tekanan lokal pada puting dengan cara mengubah-ubah posisi menyusui. Untuk puting yang sakit, frekuensi dan lamanya dikurangi.
Apabila dengan tindakan tersebut diatas puting tetap nyeri, sebaiknya dicari penyebab lain (misalnya moniliasis ). Puting susu lecet atau luka akan memudahkan terjadinya infeksi pada payudara (mastitis).
4.      SALURAN SUSU TERSUMBAT (OBSTRUCTIVE DUCT)
Sumbatan pada saluran susu disebabkan oleh tekanan yang terus menerus. Tekanan dapat berasal dari pemakaian “BH” yang terlalu ketat, tekakan jari pada tempat yang sama setiap menyususi, atau kelanjutan dari payudara bengkak. Pencegahan dapat dilakukan dengan memakai BH dengan ukuran yang memadahi dan menopang payudara denagn baik, pengurutan payudara yang teratur dan dengan teknik menyusui yang baik.
Pengobatan dilakukan dengan memberikan kompres hangat sebalum menyusui, pengurutan payudara, mengeluarkan sisa ASI setelah menyusui dan kompres dingin setelah menyusui untuk mengurangi rasa sakit. Saluran susu yang tersumbat bila tidak ditangani sebagaimana mestinya dapat menjadi mastitis (radang payudara).
5.      RADANG PAYUDARA (MASTITIS)
Proses infeksi pada payudara menimbulkan pembengkakan lokal atau seluruh payudara, merah dan nyeri. Peradangan mengenai stroma payudara yang terdiri dari jaringan ikat, lemak, pembuluh darah, dan getah bening. Biasanya terjadi pada minggu ke 2, ibu merasa demam umum seperti influenza.
Biasanya didahuliu oleh puting lecet, payudara bengkak, atau sumbatan saluran susu. Ibu dengan anemi, gizi buruk, kelelahan, dan stres juga merupakan faktor predisposisi.
Penanggulangan
a.       Ibu harus terus menyusui agar payudara kosong.
b.      Kompres hangat dan dingin seperti pada payudara bengkak.
c.       Memperbaiai posisi menyusui, terutama bila terdapat puting lecet.
d.      Istirahat cukup, makanan yang bergizi.
e.       Minum sekitar 2 liter per hari.
f.        Antibiotik.
g.       Analgesik
6.      ABSES PAYUDARA
Berbeda dengan mastitis, pada abses payudara :
a.       Infeksi mengenai jaringan parenkrim dan besar nanah.
b.      Payudara yang sakit tidak boleh disusukan, sedangkan payudara yang sehat tetap disusukan.
c.       Terjadi sebagai komplikasi dari mastitis.
d.      Perberian antibiotik dan analgetik.
e.       Bila perlu lakukan insisi abses.
Payudara yang sakit sementara tidak disusukan, namun ASI tetap dikeluarkan manual atau dengan pompa agar produksi ASI tetap baik. Dalam beberapa hari dapat disusukan kembali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar